Suka Duka Bekerja Dalam Tim Internasional

Namanya juga buruh sekaligus ngojek, yaa saya harus siap pasang badan dimana saja.  Dapat pelanggan mulai dari cukong hingga bencong, yaa semuanya harus diterima dengan ikhlas. Tidak ada beda perlakuan menghadapinya.  Orang dari mana-mana di seluruh dunia yaa kita terima. Jangan dibedakan. Semua pelanggan diperlakukan dengan baik, ramah dan dibantu hingga tercapai sampai tujuannya.

Karena pelanggan berasal dari penjuru mata angin di muka bumi ini, yaa saya pun kerja bersama para buruh dan pengojek lainnya yang juga berasal dari beberapa tempat di penjuru mata angin. Kami sudah kerja bersama-sama hingga bertahun-tahun. Namun hingga kini, belum pernah bertatap muka (tanpa dibantu internet) bahkan sedetik saja.

Sesama buruh, sesama pengojek, yaa jelas ada cerita dan suka dukanya ketika kerja bersama. Ini beberapa cuplikan suka duka kendala dan bagaimana kami mengatasinya dalam beberapa tahun belakangan ini.

Jam kerja yang berbeda akibat wilayah geografis.
Di tanggal dan detik yang sama. Managernya baru mulai berangkat kerja di Munich, sebab disana pagi hari. Developernya di Bandung sedang gembira ria makan siang, sebab memang sudah waktunya ia melepas lapar di warung tegal. Padahal tester QA-nya malah sedang pulas-pulasnya tidur tengah malam di New York. Di detik yang sama, manusia di beberapa belahan dunia mengerjakan kegiatan mereka masing-masing. Yang jadi pertanyaan, kalau mau meeting online, siapa yang harus berkorban harus bergadang? (*Kalau di tempat saya, managernya, hahaha*)

Miskomunikasi.
Yang bicara berhadap-hadapan tatap muka dan pakai satu bahasa saja sering mendapat masalah dengan komunikasi, apalagi yang jauh-jauhan dan modelnya hanya bertemu melalui perangkat keras dan perangkat lunak serta memakai beda bahasa?
Miskomunikasi sering terjadi bila ada masalah dalam jaringan internet dan kemampuan bahasa yang berbeda antar anggota tim. Salah satu cara mengatasi kendala ini adalah selain menggunakan live chat, juga dengan memakai fasilitas pendukung visual seperti remote desktop, team viewer atau live meeting.

Administrasi Perbankan.
Nah ini menyebalkan. Sebab jam clearing tiap bank di seluruh dunia itu beda-beda. Ketika harus mentransfer sejumlah dan auntuk membeli logistik atau pembayaran upah kerja, akibat clearing bank lokal yang dipakai dalam bertransaksi dalam jumlah platform tertentu, maka sering tertunda. Belum lagi kalau negara yang bersangkutan sedang libur. Haduh, pusing!
Mengatasi masalah ini adalah dengan memakai Paypal atau sistem pembayaran langsung. Jeleknya, paypal ke/dari rekening bank itu butuh waktu. Sistem lain adalah memakai alternatif seperti moneybookers, INGdirect, Amazon Payment atau Squeare dan lainnya. Sayangnya hanya bisa dimanfaatkan oleh para pengguna yang berdomisili di negara terntentu saja. Untuk mengatasi masalah ini, biasanya menyewa vendor internasional yang mengatasi finansial semacam upah kerja. Jadi pada waktu tertentu, semua upah pegawai lunas terbayar. Barang-barang terlunasi dan tidak ada masalah dengan kredit macet pembayaran dari client. Jasa vendor macam ini, biasanya memang butuh biaya. Biaya dibebankan mereka, bisa perbulan atau pertransaksi.

Hukum Internasional.
Di Eropa, transaksi online diatas 11K (dalam satuan euro) sudah masuk dalam pengawasan pihak berwajib. Di Amerika Serikat, sekitar 19K (dalam USD) sudah masuk dalam kategori wajib lapor. Di Timur Tengah ada aturan tapi kurang jelas, banyak bolongnya. Sementara kalau di Indonesia, jika transaksi online dalam rupiahnya melebihi 100 juta, malahan belum ada aturannya. Padahal jelas-jelas di bandara internasional kalau kita bawa uang Rp 100 juta, itu wajib lapor. Itu baru transaksi antar anggota tim yang melibatkan uang loh. Belum kalau sudah harus saling mengirim logistik (misalnya kartu grafis jenis khusus yang dikembangkan hanya untuk prototipe), maka makin repot urusannya. Pada tim besar, jelas ada orang-orang dari departemen legal yang mengurusi hal ini. Pada tim kecil atau perusahaan start-up, mau tidak mau para stakeholder, mulai dari jongos sampai bos, harus benar-benar paham hukum yang berlaku di negara rekan setimnya.

Beda Budaya.
Teman-teman pengembang piranti dari Amerika Utara itu hobi sekali bawa makanan dan minuman kalau rapat. Kadang-kadang tidak tanggung-tanggung, kue ulang tahun ikut dibawa. Bikin iri. Sementara teman-teman dari Eropa itu kalau bicara umumnya detail da kadang sering dianggap oleh para rekan benua lain sebagai buang-buang waktu. Rekan dari Asia tenggara itu kadang sering diam dalam rapat, membingungkan rekan kerja dari benua lainnya. Sementara dari Afrika Utara ada banyak rekan kerja yang kalau bicara seakan memarahi satu ruangan. Ini bukan masalah komunikasi, melainkan beda budaya. Dalam menghandle issue yang muncul dalam perbedaan budaya dalam lingkup kerja, biasanya manajer atau moderator rapat (jika dalam rapat) selalu memberi informasi pada rekan-rekan kerjanya agar tetap fokus pada pekerjaan dan target. Ini memang akan terlihat dingin (kalau dilihat pake perasaan dan mata hati… tsaaah), tapi jauh lebih baik daripada di ruang kerja saling maki-maki hanya gara-gara si Anu tidak suka bau kari ayam makan siang rekan kerjanya :)

Yaah segitu dulu deh. Nanti kalau ada waktu nanti dilanjut lagi diskusinya. Silahkan menambahkan jika berminat. Lumayan loh, dengan berbagi ga bakal deh situ kekurangan. Malahan biasanya malah nambah kaya. Kaya ilmu :) Ayo bagi pengalamannya, Mas, Mbak :)

This entry was posted in bahasa_indonesia, geekjoke, komunikasi, pasar and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Suka Duka Bekerja Dalam Tim Internasional

  1. mulia budi says:

    teman tolong saya beri tahu bagaimana cara mengurus mayat abang say a yang baru meninggal di canada tanggal 25 nov 2013

  2. mulia budi says:

    mayat abang saya itu masih di rs kepolisian canada tanpa diurus oleh kbri

  3. mulia budi says:

    dalam surat yang sampai kekeluarga ada bekas benturan benda tumpul di belakang kepala

  4. Gwendolyn says:

    Awesome post. You should use social sites to increase traffic and
    make your site go viral. There are tools which automate this
    time consuming process.Visitors can flood your page
    in no time, just type in google for:
    Rixisosa’s Social Automation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *