Memahami Dasar CSS versi Lie

foto Håkon Wium LieSaya telat, baru baca tesisnya Håkon Wium Lie. Ini tesis keren sekali. Judulnya Cascading Style Sheets. Iya benar, CSS. Asal mula dan bagaimana terbentuknya CSS ada di sini.

Kenapa telat?

Nggak, saya nggak begitu telat. Saya sudah baca bukunya Lie yang edisi pertama Cascading Style Sheets: Designing for the Web. Buku ini penting buat awal-awal perkembangan membuat sketsa design dan menentukan arsitektural website. Buku ini memang implementasi dari tesisnya Lie.

Loh jadi kenapa telat?

Iya, saya telat tahu kalau buku itu punya versi html dan pdf nya yang bisa dibaca gratis. Kalau tahu begini mah, ngapain juga dulu maksa-maksa kantor beliin buku itu. Hahaha. Mungkin gara-gara saya nggak mau rugi kali yaah. Hahaha.

Untuk teman-teman yang berminat membaca tesisnya Lie, silahkan ke link berikut ini:
HTML: http://people.opera.com/howcome/2006/phd/
PDF: http://people.opera.com/howcome/2006/phd/css.pdf

Lebih lanjut mengenai Lie yang juga bosnya Opera (yang internet browser, bukan yang nyanyi)… Berikut ini kutipan beliau mengenai dirinya sendirinya:

“So, somewhat by accident, I was the first person to type the now ubiquitous string “HTML 3.2” into a computer. A few small key strokes for a man, a giant leap for the web.”

Posted in design, html, sistem, website | Tagged , , , | 2 Comments

Nomor Telepon Bill Gates

foto bill gates

Salah seorang klien (yang meminta tim kami membuat webnya) datang mengeluh:

Saya: “Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
Ia: “Kok webnya saya nggak jalan?”

Waktu itu, saya curiga ada bug di halaman aplikasi web yang kami kembangkan buat beliau. Maka saya buka komputer dan langsung menuju URL yang ia maksud (*Kebetulan saya bookmark, jadi bisa lebih cepat ke sana*). Setelah saya cek di browser, test berulang-ulang, lalu memeriksa feedback dan SVN untuk melihat deployment terakhir. Saya bingung, semuanya nampak baik-baik saja.

Saya: “Loh kok ini jalan, Bu? Bagus malah”

Si Ibu kebingungan, “Tapi di rumah ga jalan”

Saya yang mulai curiga dengan browser yang beliau pakai lalu bertanya, “Di rumah pakai apa, Bu?”

“Biasa aja tuh, pake daster”

Hah!

“Bukan Bu, maksud saya di rumah ibu pake komputer apa?”

“Komputer saya lah. Masak komputer anak saya. Kamu gimana sih?”

“Umm, maaf, saya coba rephrase kalimat saya. Di rumah, Ibu pakai komputer sistem apa dan browser apa ketika mengecek web Ibu?”

“Mana saya tahu yang begitu. Coba kamu telpon ini anak saya”, katanya sambil menyodorkan telepon genggamnya.

Beberapa menit kemudian, dari anaknya, saya tahu kalau si Ibu memakai windows 98 dan (tentu saja) perambah internet dengan Internet Explorer 6.

“Bu, web Ibu nggak bisa dibuka dengan Internet Explorer 6 yang ada di komputer Ibu. Kan waktu awal kontrak kita semua sudah setuju kalau web Ibu nggak akan support Internet Explorer 6 karena Ibu minta usability yang nggak bisa di dukung software itu” kata saya sambil senyum

Beliau ngotot, “Saya nggak mau tau, pokoknya saya mau liat website saya di rumah!”

“Waduh Bu, itu bisa ngerubah kontrak”

“Pokoknya saya nggak mau tahu!”

Saya coba sabar. Akhirnya ketemu deh triknya. Beliau ini amat perhitungan soal bujet proyek. Semuanya harus dirasionalisasikan. Saya suka itu. Tapi untuk saat ini beliau nampaknya tidak rasional. Maka, saya coba mendekati beliau melalui bujet dan rasional aspek.

“Bu, kalau Ibu ngerubah kontrak akan membuat bujet proyek kita membengkak {sambil menyebut persentase}. Itu besar loh, Bu. Sementara kalo Ibu ganti browser, gratis. Saya bisa telpon anak Ibu untuk membantunya menginstal Opera atau Chrome di komputer, Ibu. Pilih mana?”

Beliau diam sejenak. Lumayan lama. Sambil menatap saya galak. “Siapa sih itu yang bikin komputer saya di rumah?”

“Kalau perangkat kerasnya saya nggak tahu, Bu. Tapi kalo sistem dan perambah internetnya, namanya Bill Gates dan teman-temannya”

Masih menatap galak ia bertanya, “Kamu tahu nomor teleponnya orang itu. Biar sini saya telpon. Kurang ajar itu orang!”

Saya tidak jawab apa-apa, hanya bisa menatap beliau sambil garuk-garuk kepala.

Posted in geekjoke, komunikasi, sistem, website | Tagged , , , , , , | 1 Comment

Pasar Komunikasi Engineer

image logo ieeeTadi pagi saya baru saja membaca artikel lawas karya Alfred Norton Goldsmith. Disebut artikel lawas karena terbitnya sudah dari tahun 1958 lalu.

Dalam majalah IEEE (di baca; “I Triple E”) ini Pak Alfred menulis mengenai pentingnya kemampuan verbal dalam bicara maupun menulis di dunia engineer. Judul aslinya adalah Good Writing and Speech-Their Importance to the Engineer: Augustus 1958: Goldsmith, Alfred.N

Saya tahu majalah i-tripel-e memang menuai kritik dari RMS (Richard Matthew Stallman, terpujilah nama beliau dan selalu dirahmati oleh Yang Maha Open Source) karena ‘meminta transfer copyright dari penulis dan lalu menjual artikel, tanpa memberi penulis imbalan’. Namun apa daya, majalah peer-review ini keren banget sih. Hehe.

Walaupun begitu, pada intinya dari artikel Pak Alfred adalah mengingatkan kepada para insinyur (atau calon insinyur atau siapalah yang mengaku atau malah macam wannabe jadi-jadian model saya begini) agar lebih memperbaiki kemampuan mereka dalam berbicara dan menulis. Tentu saja yang berhubungan dengan dunia engineering. Walaupun tidak menutup kemungkinan terhadap dunia lainnya.

Kemampuan menulis dalam engineering itu penting. Apalagi ketika sudah ada istilah RTFM (Read The F**king Manual). Dimana hampir 80% panik masalah perangkat lunak/keras bisa diselesaikan apabila manual nya di baca dengan baik (sumber : http://www.readthefuckingmanual.com/). Maka manual itu pun harus bisa di tulis dengan baik.

Dalam tataran tertentu, Pak Alfred menjelaskan bahwa kemampuan verbal komunikasi berbicara juga amat penting dalam dunia engineering. Jika anda sedang menempuh sekolah tinggi akhir misalnya dan lalu suatu hari harus bicara mempresentasikan penelitian di depan publik, tentu saja di tuntut harus bicara di depan publik.

Selain itu, ada yang tidak kalah pentingnya; yaitu komunikasi dalam membangun jaringan.

Masalah komunikasi ini memang sungguh luar biasa. Saya ingat suatu hari iklan situs kencan di sebuah majalah pria. Isinya seorang pria dengan pakaian lengkap sambil memegang sekuntum mawar yang terbaring di ranjang rapi pada petang hari pukul 19.30 di hari sabtu. Di bawahnya ada tulisan “David. Really good system analysers. Bad at dating”

Mungkin engineer yang baik itu adalah engineer yang kemampuan komunikasinya tinggi kali yaah. Jadi, selalu lancar kalo ngobrol dengan lawan jenis. Hehehe…

Kalau memang engineer susah komunikasi, mungkin ini sebuah pasar baru. Yaitu mengajarkan para engineer-engineer yang kesulitan tersebut untuk lebih memahami komunikasi. Terutama komunikasi terhadap lawan jenis. Hahaha…

Posted in komunikasi, pasar | 2 Comments

HTML Romantis

Beberapa orang pengunjung kelas awal HTML yang saya (tanpa sengaja) buka seringkali bertanya, “HTML apa yang cocok untuk saya?”

Ini pertanyaan yang lucu. Tapi tentu saja tidak lucu buat si penanya. Maka ketika ada yang bertanya hal tersebut, saya berusaha untuk tidak tersenyum.

Buat beberapa orang, HTML itu adalah bahasa yang serius. Beberapa dari mereka memang akan memilih jalur sebagai arsitek pembangun, pengembang aplikasi, disainer front-end, hingga insinyur khusus tampilan (User Interfece). Semua itu, adalah profesi yang serius. Sebagaimana seriusnya profesi lainnya di muka bumi. Sebelum memutuskan untuk memilih jenis profesi, si penanya pasti sudah mati-matian memikirkan mengenai kelanjutan hidupnya di masa depan. Terutama dengan HTML.

Maka itu saya berusaha untuk tidak tersenyum. Melainkan bertanya balik dengan ramah, “Ada apa memangnya? Kan belajar itu baik? Apa saja bentuknya, HTML itu baik untuk dasar pelajaran kamu”

Beberapa orang pemula, akibat-teramat-pusing-sekaligus-stress biasanya sudah mulai gugup ketika akan memulai belajar bahasa markah HTML. Tidak tahu mana yang akan ia pilih. Apakah HTML, ataukah XHTML, atau DHTML, atau XML atau malah CSS. Bahkan beberapa orang bahkan sudah memilih akan belajar langsung JQuery, AJAX, JavaScript OOP atau DOM berbasis HTML.

Kasihan…

Setidaknya, saya kasihan pada mereka.

Beberapa orang loncat ke HTML dengan serta merta karena pada saat ini (2010 dan ke depan ketika HTML 5 sudah di terima seluruh perambah internet), lapangan pekerjaan buat sektor yang menjadikan bahasa HTML sebagai basis pengembangan memang amat menggiurkan. Tiga dari sepuluh pekerjaan dengan bayaran (per jam) terbesar di Amerika Serikat bahkan mensyaratkan kandidatnya untuk mengetahui HTML dengan baik.

Jadi, para penanya itu, dengan banyak ekspektasi sering tanpa sadar bertanya secara explisit “Saya mau belajar HTML. Saya mau naik gaji. HTML mana yang bisa membuat saya bergaji tinggi?”

Saya cengar-cengir menjawabnya.

Biasanya saya jawab “Dulu… Duluuu… Saya belajar HTML dengan cara… ”

Biasanya mereka tidak mau dengar cerita saya. Mungkin karena cerita saya terlalu kemayu. Tidak gagah atau jantan. Bahkan sama sekali tidak terdengar seperti ambisi naik gaji.

Saya pun tahu diri. Sebab mana ada orang yang mau mendengar bahwa saya belajar bahasa-bahasa mesin hanya karena patah hati dua belas tahun lalu. Alih-alih bunuh diri, saya malah pergi ke toko buku. Pulang membawa setumpuk buku pemrograman. Lantas mengurung diri berbulan-bulan dalam kamar bersama komputer. Karena tidak pandai menulis puisi, mencoba mengubur sakitnya romantisme masa muda dengan membuat film animasi cinta pada halaman HTML berbasis applet Java .

Ahh itu cerita yang bodoh. Tidak ada yang mau mendengarnya :)

Biasanya, jika ada yang bertanya apa HTML yang cocok untuknya, entah kenapa saya tiba-tiba berasa jadi bapak-bapak. Sebab selalu menjawab, “Kamu maunya jadi apa? Jadi arsitek, jadi developer, jadi enginer, jadi disainer… Jadi apa?”

Bukan menjawab pertanyaan, e-eh malah nanya balik. Hehe.

Kalau mau belajar HTML yang cepat, sebaiknya memang sudah tahu mau diapakan keahlian HTML itu. Sebab sekarang banyak modul di internet yang dengan mudah bisa dibaca dengan cepat sesuai dengan keinginan.

Lebih baik belajar HTML daripada patah hati. Hihihi

Posted in html | 2 Comments

Qakbot Lagi

image qakbot on microsoft firefront

Edan hari ini qakbot menyerang terus dan semakin menjengkelkan. Sudah ada perintah dari pusat untuk memakai Microsoft Forefront (client) sebagai sarana admin kami untuk memaintain sistem PC yang  berbasis windows. Namun akibat kepandaiannya berevolusi, saya lihat beberapa kali virus ini menyamar menjadi nama-nama baru dan bersembunyi di balik folder C:/. Program-program exe jelmaan qakbot ini benar-benar canggih. Selama beberapa menit, ia akan menggandakan diri (*udah kaya amuba aja*) dan lalu berganti nama (*kayak buronan kartu kridit*)
Daripada berlarut-laut dan jumlah PC yang terinfeksi mencapai ribuan di puluhan negara, maka akhirnya kami bekerja sama dengan pihak Microsoft untuk menghandle issue ini.
Symantec, salah satu usaha yang menghidupi dirinya dari pemberantasan hama pada komputer, mengatakan bahwa qakbot ini dapat menyelundupkan data sebesar 2 Gigabyte setiap minggunya. Umumnya data-data yang ada di file-file yang tersimpan di browser. Misalnya data history browsing dan kadang menanamkan keylogging.
Astaga!
Maka dengan serta merta, saya menghapus semua data yang ada dan tersimpan di browser dan lalu melakukan proses yang membutuhkan logging di mesin virtual (Oh! I love VMWare clien) dan melakukan semuanya di Sistem berbasis Ubuntu.
Setidaknya, tidak ada Qakbot ataupun virus trojan dan sejenisnya di Ubuntu dan saya merasa lebih aman serta percaya diri dalam beraktifitas di dunia online :)

Posted in data, security, server, sistem | Tagged , , | Leave a comment